Feeds:
Pos
Komentar

Proaktif

Suara keyboard dari komputer di kantor masih saja bergema diantara keheningan malam, tombol-tombol keyboard itu seakan terus memanggil pengetiknya untuk terus terburu-buru mengetik tanpa boleh menoleh pada jam dinding besar yang tiada henti berdetak.

Keseharian Roni seakan tidak pernah lepas dari kesibukan, pekerjaannya sebagai wartawan sebuah media besar seolah menuntut waktunya hanya untuk memenuhi deadline saja. Jangankan untuk berbagi waktu dengan keluarga, untuk makan bahkan memandikan badannya saja kadang tidak sempat Roni lakukan.

Roni merupakan wartawan yang memiliki dedikasi tinggi terhadap media yang telah membesarkan kariernya. Berbagai macam prestasi dan penghargaan selalu menghiasi langkah karirnya, mulai dari penghargaan dari media tempatnya bekerja sampai penghargaan bertaraf internasional pun pernah diraihnya. Roni memang berbakat dalam hal tulis menulis, beberapa novel pun sudah ia terbitkan. Sangat bervitalitas tinggi.

“Roni,kapan kamu akan pulang nak…ibu kangen sekali” suara lembut nan syahdu ibunda Roni diujung telepon menyapa telinga Roni yang tengah sibuk bergulat dengan deadline berita. “Iya,nanti Roni pulang ‘bu..ibu baik-baik ya dirumah,Roni pasti pulang kok,mungkin akhir minggu ini pulang” jawab Roni mencoba meyakinkan Ibundanya seakan tidak ingin mengecewakan kerinduan perempuan yang sudah membesarkan dan mendidiknya sehingga bisa menjadi seperti ini.

Roni yang sebelum “besar” oleh media besar tempat berkarirnya kini sebelumnya banyak dididik oleh organisasi pers mahasiswa yang pernah digelutinya kala proses mencapai gelar sarjana dikampusnya terdahulu. Dari kegiatan tersebutlah bakat menulis dan vitalitasnya kini terasah dengan runcing dan tajam yang membuatnya semakin menanamkan janji pada dirinya untuk terus bergerak di keadaan sesulit apapun dalam mengabarkan kebenaran.

Roni memang menjadi sangat proaktif kala bakat dan semangatnya terbakar oleh jiwa mudanya, namun ada beberapa hal yang hampir dia kesampingkan, adalah keluarga dan kehidupan pribadinya. Selama ini dia hanya asyik dengan pekerjaan, karir, dan hobby menulisnya. Waktu untuk diri sendiri bahkan keluarga betul-betul tak terpikirkan olehnya, sekadar pulang kerumah yang hanya satu bulan sekali, menyapa Ibunda, menatap photo almarhum ayahnya, lalu dalam kamar setelah mandi dan tertidur sebentar kembali laptop yang tidak pernah dia lupa untuk dibawa kemanapun menghiasi pandangan mata minusnya.
Padahal diantara kesibukannya, ada ibunda yang selalu ingin menatap wajah polos anaknya kala tertidur pulas setiap malam. Ada kesehatan yang terabaikan oleh aktifitas padat. Ada tubuh yang sangat membutuhkan istirahat untuk kembali mengumpulkan semangat. Dan ada hati yang membutuhkan cinta.

unmistakable

Semua yang pasti di dunia ini adalah kepunyaan Allah, tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang bisa menentukan sesuatu, apa pun itu.

Dalam tema yang ke 4 #unmistakable saya terinspirasi untuk membahas tentang kematian, dimana kematian adalah suatu yang pasti terjadi pada setiap apa pun di dunia ini. Unmistakable death.

Kematian dapat diartikan dalam banyak bidang keilmuan, namun kesemuanya sama-sama mengartikan pada suatu hal yang tidak hidup/tidak bernyawa lagi. Seperti manusia ketika dia sudah mengalami kematian, dia secara otomatis sudah tidak akan lagi hidup/tidak bernafas lagi, roh nya sudah terlepas dari raga, kaku, dingin, pucat dan diam.

Banyak hal yang menghantarkan manusia pada kematian, terlepas dari takdirnya sendiri. Misalnya kecelakaan yang berujung maut, penyakit yang kronis, peperangan, pembunuhan atau bahkan kelahiran.

Begitu banyak cerita dari kematian, mulai dari cerita sedih, sendu, haru, atau bahkan bahagia bagi orang-orang yang memang mengharapkan kematian tersebut. Tapi rasanya terlalu jika ada orang yang berbahagia atas berita kematian seseorang ya.

Tidak ada yang bisa mengetahui kapan, dimana, dan bagaimana proses kematian dari saya, kamu, dan kita semua sebagai sebagian penghuni bumi ini. Hanya Dia Allah SWT yang mempunyai kuasa atas kematian kita sebagai salah satu mahluk ciptaanNya.

“Maha suci Allah yang di dalam genggaman kekuasaanNya seluruh kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah diantara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya dia maha mulia lagi maha pengampun” (QS Al-Mulk [67] : 1-2)

Dan, semoga kita dapat menghadapi ke-unmistakable death-an kita dalam keadaan Islam. Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT. Amin

Sabar

Sabar,satu kata yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan saya,mungkin ketika saya masih dalam perut mama, saya sudah diperkenalkan beliau akan maksa sabar, versi beliau tentunya.
Banyak makna sabar secara keilmuan, namun intinya dari kata sabar itu bagi saya adalah langkah diri untuk menahan/meredam emosi dan berusaha untuk tidak terjebak didalamnya.

Untuk menjadi manusia yang sabar sangatlah sulit. Barangkali tidak ada satupun manusia didunia ini yang tidak pernah luput dari satu masalah yang menuntutnya untuk berlaku sabar. Bahkan rasanya dari kala kita masih kecil, sikap sabar sudah mulai diajarkan oleh orangtua kita baik secara langsung maupun tidak secara langsung dengan melihat tingkah laku orang disekitar.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (Ali Imran : 146)
Inilah salah satu penguat kita sebagai manusia untuk berusaha berlaku sabar dalam menjalani hidup, Islam sebagai agama yang saya anut memerintahkan umatnya untuk berlaku sabar, dimana dalam salah satu ayat Al-Quran menyebutkan seperti diatas.

Bahwa sebagai manusia tidaklah sia-sia jika kita berlaku sabar, karena Allah SWT akan selalu bersama kita. Dalam satu hari 24 jam kita menarik nafas dan beraktifitas, tentu saja tidak pernah luput dari satu masalah pun, terkadang masalah tersebut terasa begitu berat, begitu sedih, bahkan terkadang terasa nasib begitu kejam. Mungkin kala inilah kita sebaiknya berlaku sabar, selain lebih tawaqal dalam menghadapi masalah, kita pun akan terasa lebih ikhlas dalam menghadapi masalah.

Sekali lagi, menjadi manusia yang sabar sangatlah tidak mudah, terkadang letupan-letupan kecil emosi masih terus memicu diri untuk berlaku bodoh dalam menyikapi masalah, beberapa perbuatan bodoh pun terkadang muncul sebagai luapan letupan emosi tadi, disinilah sikap sabar seharusnya menjadi peredam.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya masih jauh dari sikap seorang penyabar, apalagi dikehidupan baru saya hari ini setelah sudah tidak single lagi. Rasanya banyak yang harus saya benahi dalam diri ini. Banyak sabar yang harus saya terapkan dalam berlaku dan bersikap. Semoga Allah SWT terus menuntun kita dalam sabar. ‎​َ آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن

Yang terlewatkan

Baiklah,ini kali pertama saya kembali mencoba menulis di blog setelah beberapa tahun terpaksa libur oleh segala macam alasan utama yaitu malas,alasan yang basi memang.

Sebetulnya sudah sering saya disemangati oleh teman-teman yang memang masih eksis menulis untuk tetap eksis menulis juga,dan ketika itu juga semangat saya untuk menulis seperti dibangkitkan (sebetulnya) namun ya namanya malas dan lain sebagainya,membuat semangat tadi terkubur sia2 saja dari kebangkitannya.

Ya sudahlah,tidak udah berlarut-larut membahas tentang kemalasan,nanti datang lagi si malas itu bisa-bisa jadi malas lagi.

Sebenarnya ada banyak sekali cerita yang bisa dituliskan selama jeda kemalasan saya beberapa tahun kebelakang ini untuk dicoretkan dalam tulisan sekedar memenuhi lalulintas blog. Rasanya kalau diingat-ingat lagi saya jadi merasa rugi kenapa tidak saya tulis semua kejadian yang saya rasakan beberapa tahun kebelakang,seperti salah satu teman mengatakan “menulis bisa jadi terapi untuk melewati beberapa masalah kebelakang”.

Rasanya benar sekali teman saya itu, tulisan-tulisan tersebut bisa kita nikmati nantinya diselingi petikan-perikan hikmah atas kejadian yang kita runut satu persatu dalam barisan kata yang sudah kita susun dalam tulisan. Ah… Rasanya saya ingin kembali kemasa-masa beberapa tahun yang lalu itu.

Sudah terlambat,tapi masih ada memory yang merekam,barangkali otak ini masih mau membaginya untuk saya susun menjadi satu tulisan, semangat!

entah

Kita sama-sama berucap dalam sebuah makna kata yang sama
Dan janji pun terlontar berusaha senada
Bahkan peluh yang memandikan tubuh dalam perjalanan kita pun seakan berkehendak melantunkan bahasanya dengan makna yang sama pula
Namun kita di paksa berhadapan dengan realitas
Realitas dalam sebuah prosesi perjalanan kita
Sehingga melarutkan janji yang telah terucap, melarutkan peluh dalam realitas yang tak terhindarkan

Pengamen itu…

Badannya kurus, bahkan bisa dibilang kurus kering, warna kulitnya coklat pekat terbakar matahari, pakaiannya lusuh. Seutuhnya, penampilannya sangat kumal, jenis kelaminnnya laki2, ber”profesi” sebagai pengamen. Melihat perawakannya, laki-laki ini berkisar antara usia 15 sampai 18 tahun-an, usia yang masih muda tentunya.

Jika kita coba jabarkan dengan mengambil latar belakang perekonomian, usia laki-laki tersebut seharusnya masuk dalam kategori usia produktif sebagai salah satu unsur faktor produksi: sumber daya manusia, yang mampu menghasilkan sebuah komoditas yang dapat menjadi pendapatan, baik untuk lingkungan pribadinya, umumnya lingkungan negaranya sebagai salah satu unsur dalam Pendapatan Nasional (PNB).

Tapi, pada kenyataannya: profesinya hanyalah sebagai pengamen, meminta-minta belas kasihan para penumpang angkutan umum atas kualitas suaranya yang sangat jauh dari artis profesional, memelas dengan mengandalkan penampilannya yang bertubuh kurus kering. Sangat memprihatinkan.

Seandainya, laki-laki tersebut memiliki kehidupan yang lebih layak, minimal dapat mengecap jenjang pendidikan sampai kemampuannya dapat tergali atau kreativitasnya dapat terpicu, barangkali dia tidak akan sepasrah hari-harinya kini, naik-turun dari satu angkutan umum ke angkutan umum lain, bernyanyi dengan suara yang sangat seadanya.

Seandainya, laki-laki tersebut ditakdirkan lahir di negara yang memberikan fasilitas yang pantas bagi rakyatnya untuk merasakan asiknya bangku sekolah dengan lingkungan pendidikan yang baik, barangkali kulit coklat pekat terbakar matahari selama lebih dari 18 tahun hidupnya kini tidak akan semakin kelam terlihat, atau mungkin tubuh kurus keringnya tidak akan semakin membuat cacing-cacing dalam perutnya terus meronta-ronta memohon makanan dari hasil nyanyiannya.

Urat-urat tenggorokannya semakin nyata terlihat disekitar lehernya, seiring nyanyiannya yang memasuki nada tinggi. Tatapannya kosong mengarah jendela bis yang sedang aku naiki. Tepukan tangannya tak kalah giat berusaha mengiringi nyanyian gentar demi sesuap nasi.

Inikah bentuk aplikasi dari Undang-Undang Dasar 1945 bahwa: “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”? bisik batinku.

kematian

Aku bermimpi…

Aku berkhayal…

Seluruh tubuhku terbalut kain berwarna putih bersih…

Aku terbaring dalam keheningan, jauh dari hingar bingar…

Rona mukaku begitu polos dan pasi, hanya satu garis senyuman tersungging diantara bibir pucatku…

Adzan magrib diantara rintik hujan menggema sampai rumahku yang sedang ramai, menandakan malam di hari kamis itu sudah bergulir…

Tuhan, mimpi ini akankah nyata nanti?

Tuhan, khayalan ini begitu sempurna kurasa…

Tuhan, pantaskah aku kembali sesempurna keadaan itu padaMu?

Aku… rindu padamu Tuhan, diantara tumpukan dosa yang telah kuperbuat…