Kita sama-sama berucap dalam sebuah makna kata yang sama
Dan janji pun terlontar berusaha senada
Bahkan peluh yang memandikan tubuh dalam perjalanan kita pun seakan berkehendak melantunkan bahasanya dengan makna yang sama pula
Namun kita di paksa berhadapan dengan realitas
Realitas dalam sebuah prosesi perjalanan kita
Sehingga melarutkan janji yang telah terucap, melarutkan peluh dalam realitas yang tak terhindarkan
Ditulis dalam celoteh | 1 Komentar »
Badannya kurus, bahkan bisa dibilang kurus kering, warna kulitnya coklat pekat terbakar matahari, pakaiannya lusuh. Seutuhnya, penampilannya sangat kumal, jenis kelaminnnya laki2, ber”profesi” sebagai pengamen. Melihat perawakannya, laki-laki ini berkisar antara usia 15 sampai 18 tahun-an, usia yang masih muda tentunya.
Jika kita coba jabarkan dengan mengambil latar belakang perekonomian, usia laki-laki tersebut seharusnya masuk dalam kategori usia produktif sebagai salah satu unsur faktor produksi: sumber daya manusia, yang mampu menghasilkan sebuah komoditas yang dapat menjadi pendapatan, baik untuk lingkungan pribadinya, umumnya lingkungan negaranya sebagai salah satu unsur dalam Pendapatan Nasional (PNB).
Tapi, pada kenyataannya: profesinya hanyalah sebagai pengamen, meminta-minta belas kasihan para penumpang angkutan umum atas kualitas suaranya yang sangat jauh dari artis profesional, memelas dengan mengandalkan penampilannya yang bertubuh kurus kering. Sangat memprihatinkan.
Seandainya, laki-laki tersebut memiliki kehidupan yang lebih layak, minimal dapat mengecap jenjang pendidikan sampai kemampuannya dapat tergali atau kreativitasnya dapat terpicu, barangkali dia tidak akan sepasrah hari-harinya kini, naik-turun dari satu angkutan umum ke angkutan umum lain, bernyanyi dengan suara yang sangat seadanya.
Seandainya, laki-laki tersebut ditakdirkan lahir di negara yang memberikan fasilitas yang pantas bagi rakyatnya untuk merasakan asiknya bangku sekolah dengan lingkungan pendidikan yang baik, barangkali kulit coklat pekat terbakar matahari selama lebih dari 18 tahun hidupnya kini tidak akan semakin kelam terlihat, atau mungkin tubuh kurus keringnya tidak akan semakin membuat cacing-cacing dalam perutnya terus meronta-ronta memohon makanan dari hasil nyanyiannya.
Urat-urat tenggorokannya semakin nyata terlihat disekitar lehernya, seiring nyanyiannya yang memasuki nada tinggi. Tatapannya kosong mengarah jendela bis yang sedang aku naiki. Tepukan tangannya tak kalah giat berusaha mengiringi nyanyian gentar demi sesuap nasi.
Inikah bentuk aplikasi dari Undang-Undang Dasar 1945 bahwa: “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”? bisik batinku.
Ditulis dalam celoteh | 2 Komentar »
Aku bermimpi…
Aku berkhayal…
Seluruh tubuhku terbalut kain berwarna putih bersih…
Aku terbaring dalam keheningan, jauh dari hingar bingar…
Rona mukaku begitu polos dan pasi, hanya satu garis senyuman tersungging diantara bibir pucatku…
Adzan magrib diantara rintik hujan menggema sampai rumahku yang sedang ramai, menandakan malam di hari kamis itu sudah bergulir…
Tuhan, mimpi ini akankah nyata nanti?
Tuhan, khayalan ini begitu sempurna kurasa…
Tuhan, pantaskah aku kembali sesempurna keadaan itu padaMu?
Aku… rindu padamu Tuhan, diantara tumpukan dosa yang telah kuperbuat…
Ditulis dalam celoteh | 2 Komentar »